I. PENDAHULUAN
Kesehatan manusia semakin hari semakin dihadapkan dengan berbagai
permasalahan yang kompleks. Berbagai macam penyakit yang diderita
semakin beragam. Salah satunya penyakit yang ditimbulkan oleh parasit
berupa cacing yang dipelajari dalam Helmintologi (ilmu yang mempelajari
parasit berupa cacing), yang tentunya sangat beraneka ragam.
Hampir disetiap ruang dalam dunia ini dihidupi oleh mikroorganisme
jenis ini. Mereka dapat masuk ke dalam tubuh manusia dengan berbagai
macam cara, melalui makanan, kebersihan lingkunganyang tidak terjaga,
udara, dan banyak lagi cara yang tentunya sangat berhubungan dengan
perilaku manusia itu sendiri.
Beragam jenis cacing dapat menyebabkan angka prevalensi yang sangat
tinggi, dengan berbagai jenis penyakit yang ditimbulkannya. Dalam
bahasan ini, kami akan menguraikan jenis cacing Toxocara canis dan
Toxocara cati yang kami kaitkan dengan kesehatan pada manusia.
Sehingga timbul, pertanyaan “ Bagaimana hubungan jenis cacing Toxocara
canis dan Toxocara cati terkait pada kehidupannya dengan kahidupan
manusia”
Dari pembahasan yang kami uraikan, maka tujuan kami menyusun makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Diketahuinya klasifikasi terhadap jenis cacing Toxocara canis dan Toxocara cati,
2. Apa nama penyakit yang ditimbulkannya,
3. Bagaimana kaitannya dengan hospes, morfologi dan daur hidupnya,
4. Apa kaitannya dengan epidemiologi kesehatan,
5. Bagaimana patologi dan gejala klinisnya, serta
6. Bagaimana pencegahan dan pengobatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia yang terinfeksi.
2. Apa nama penyakit yang ditimbulkannya,
3. Bagaimana kaitannya dengan hospes, morfologi dan daur hidupnya,
4. Apa kaitannya dengan epidemiologi kesehatan,
5. Bagaimana patologi dan gejala klinisnya, serta
6. Bagaimana pencegahan dan pengobatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia yang terinfeksi.
Dalam penyusunan suatu makalah, tentunya banyak manfaat yang di peroleh, di antaranya sebagai berikut:
1.
Sebagai sarana untuk menambah ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang
kesehatan yang kami dapat salah satunya melalui mata kuliah parasitologi
kesehatan.
2. Sebagai latihan dalam penyusunan pangumpulan data atau laporan penelitian agar penulis lebih terampil dalam pengolahan kata dan hasil yang di dapat bisa lebih maksimal dari laporan sebelumnya.
2. Sebagai latihan dalam penyusunan pangumpulan data atau laporan penelitian agar penulis lebih terampil dalam pengolahan kata dan hasil yang di dapat bisa lebih maksimal dari laporan sebelumnya.
Semoga hasil yang di dapat menjadi pembelajaran yang positif bagi kita
semua dan dapat menjadi sebuah motivasi dalam meningkatkan prestasi
untuk masa depan.
II. TEORI dan FAKTA
1. Klasifikasi Hewan
Dalam istilah parasitologi ada pokok bahasan yang dinamakan
helmintologi, yaitu pokok bahasan yang mempelajari tentang parasit
berupa cacing. Berdasarkan taksonomi, cacing dibagi ke dalam dua
kelompok, di antaranya:
1. NEMATHELMINTHES ( cacing gilik)
2. PLATYHELMINTHES ( cacing pipih).
1. NEMATHELMINTHES ( cacing gilik)
2. PLATYHELMINTHES ( cacing pipih).
Dalam bahasan ini kami mengulas tentang cacing Toxocara canis dan
Toxocara cati yang termasuk ke dalam NEMATHELMINTHES atau kelas
NEMATODA, yang mempunyai ciri-ciri berbentuk bulat memanjang dan pada
potongan transversal tampak rongga badan dan alat-alat. Cacing jenis ini
mempunyai alat kelamin terpisah.
Dalam Parasitologi Kedokteran nematoda dibagi ke dalam dua bagian, yaitu
nematoda usus yang hidup di rongga usus dan nematoda jaringan yang
hidup di jaringan berbagai alat tubuh.
2. Morfologi
Toxocara canis berjenis kelamin jantan mempunyai ukuran panjang yang
bervariasi antara 3,6 - 8,5 cm, sedangkan Toxocara canis betina
mempunyai ukuran antara 5,6 -10 cm.
Toxocara cati berjenis kelamin jantan berukuran antara 2,5 – 7,8 cm sedangkan Toxocara cati betina berukuran 2,5 – 14 cm. Bentuk hewan ini menyerupai Ascaris lumbricoides muda. PadaToxocara canis terdapat sayap servikal yang berbentuk seperti lanset, sedangkan pada Toxocara cati berbentuk sayap yang lebih lebar, sehingga kepalanya menyerupai kepala ular kobra. Bentuk ekor Toxocara canis dan Toxocara cati hampir sama, untuk yang berjenis kelamin jantan ekornya berbentuk seperti tangan dan dengan jari yang sedang menunjuk (digitiform), sedangkan untuk yang berjenis kelamin betina bentuk ekornya bulat meruncing.
Toxocara cati berjenis kelamin jantan berukuran antara 2,5 – 7,8 cm sedangkan Toxocara cati betina berukuran 2,5 – 14 cm. Bentuk hewan ini menyerupai Ascaris lumbricoides muda. PadaToxocara canis terdapat sayap servikal yang berbentuk seperti lanset, sedangkan pada Toxocara cati berbentuk sayap yang lebih lebar, sehingga kepalanya menyerupai kepala ular kobra. Bentuk ekor Toxocara canis dan Toxocara cati hampir sama, untuk yang berjenis kelamin jantan ekornya berbentuk seperti tangan dan dengan jari yang sedang menunjuk (digitiform), sedangkan untuk yang berjenis kelamin betina bentuk ekornya bulat meruncing.
Toxocara Canis Toxocara Cati
3. Daur Hidup (Siklus Hidup)
Siklus hidup Toxocara canis dan Toxocara cati pada anjing atau kucing serupa dengan siklus askariasis pada manusia..
Siklus hidup Toxocara canis dan Toxocara cati pada anjing atau kucing serupa dengan siklus askariasis pada manusia..
Siklus hidup Toxocara cati
Sebagian
besar cacing gelang mempunyai siklus hidup yang mirip. Kebanyakan telur
cacing menetas dalam waktu dua minggu. Obat cacing membasmi cacing
dengan cara merusak sistem syaraf cacing. Obat cacing tidak bisa
membasmi telur cacing karena telur tidak mempunyai sistem syaraf. Oleh
karena itu pemberian obat cacing harus diulang 2 minggu kemudianagar
cacing yang berasal dari telur yang baru menetas dapat segera dibasmi
dengan tuntas.
Cacing Toxocara
canis, hidup di tanah, lumpur, pasir dan tempat-tempat kotor. Varian
lain diantaranya: Toxocara cati, Toxocara vitulorum, Toxocara
pteropodis, Toxocara malayasiensis dll. Cacing ini daur hidupnya
terutama melalui anjing, kucing dan dilaporkan bisa melalui herbivora.
4. Epidemiologi
1.
Di Indonesia angka prevalensi tinggi terjadi pada anak-anak yang
berusia antara 1-7 tahun, di Jakarta prevalensi pada anjing 38,3% dan
pada kucing 26 %.
2. Mereka lebih sering menghabiskan waktu bermainnya di rerumputan, duduk di pasir, yang merupakan tempat dimana cacing jenis ini berada.
3. Pada remaja, biasanya terjadi pada mereka yang memiliki kegiatan yang aktif, misalnya, silat (berguling-guling di rerumputan, tanah, dsb), ataupun kegiatan yang berhubungan dengan tanah atau lapangan kotor.
4. Pada usia dewasa juga bisa terjadi pada mereka yang melakukan kegiatan kerja bakti membersihkan parit, halaman, pengangkut pasir, dsb.
5. Tanah, lapangan, rumput yang terkontaminasi oleh cacing ini sangat mendukung cacing jenis ini untuk tinggal dan berkembang biak.
2. Mereka lebih sering menghabiskan waktu bermainnya di rerumputan, duduk di pasir, yang merupakan tempat dimana cacing jenis ini berada.
3. Pada remaja, biasanya terjadi pada mereka yang memiliki kegiatan yang aktif, misalnya, silat (berguling-guling di rerumputan, tanah, dsb), ataupun kegiatan yang berhubungan dengan tanah atau lapangan kotor.
4. Pada usia dewasa juga bisa terjadi pada mereka yang melakukan kegiatan kerja bakti membersihkan parit, halaman, pengangkut pasir, dsb.
5. Tanah, lapangan, rumput yang terkontaminasi oleh cacing ini sangat mendukung cacing jenis ini untuk tinggal dan berkembang biak.
5. Hospes
Hospes atau inang dari cacing Toxocara adalah anjing (T. canis) dan kucing (T. cati). Pada manusia, cacing ini dapat hidup sebagai parasit dan disebut parasit pengembara, menyebabkan penyakit yang disebut visceral larva migrans (pengembaraan larva di jaringan tubuh). Penyakit ini bersifat kosmopolit, ditemukan juga di Indonesia.
Untuk anjing dan kucing terinfeksi melalui migrasi transplacenta dan migrasi trans mammaria. Telur cacing dapat ditemukan pada kotoran pada saat anak anjing dan anak kucing sudah berusia 3 minggu. Infeksi pada anjing betina bisa berakhir dengan sendirinya atau tetap (dormant) pada saat anjing menjadi dewasa. Pada saat anjing bunting larva T. canis menjadi aktif dan menginfeksi fetus melalui placenta dan menginfeksi anak mereka yang baru lahir melalui susu mereka.
Hospes atau inang dari cacing Toxocara adalah anjing (T. canis) dan kucing (T. cati). Pada manusia, cacing ini dapat hidup sebagai parasit dan disebut parasit pengembara, menyebabkan penyakit yang disebut visceral larva migrans (pengembaraan larva di jaringan tubuh). Penyakit ini bersifat kosmopolit, ditemukan juga di Indonesia.
Untuk anjing dan kucing terinfeksi melalui migrasi transplacenta dan migrasi trans mammaria. Telur cacing dapat ditemukan pada kotoran pada saat anak anjing dan anak kucing sudah berusia 3 minggu. Infeksi pada anjing betina bisa berakhir dengan sendirinya atau tetap (dormant) pada saat anjing menjadi dewasa. Pada saat anjing bunting larva T. canis menjadi aktif dan menginfeksi fetus melalui placenta dan menginfeksi anak mereka yang baru lahir melalui susu mereka.
Pada kucing,
kucing jantan dan kucing betina sama-sama rentan terhadap infeksi, tidak
ada perbedaan nyata; namun kucing dewasa lebih rentan daripada kucing
yang lebih muda.
6. Nama Penyakit
Toksokariasis (Visceral Larva Migrans) adalah suatu infeksi yang terjadi akibat penyerbuan larva cacing gelang ke organ tubuh manusia. Toksokariosis bisa disebabkan oleh Toxocara canis ataupun Toxocara cati.
Toksokariasis (Visceral Larva Migrans) adalah suatu infeksi yang terjadi akibat penyerbuan larva cacing gelang ke organ tubuh manusia. Toksokariosis bisa disebabkan oleh Toxocara canis ataupun Toxocara cati.
Telur
parasit berkembang di dalam tanah yang terkontaminasi oleh kotoran
anjing dan kucing yang terinfeksi . Telur bisa ditularkan secara
langsung ke dalam mulut jika anak-anak bermain di atas tanah tersebut.
Setelah
tertelan, telur menetas di dalam usus. Larva menembus dinding usus dan
menyebar melalui pembuluh darah. Hampir setiap jaringan tubuh bisa
terkena , terutama otak, mata, hati, paru-paru, dan jantung. Larva
bertahan hidup selama beebrapa bulan, menyebabkan kerusakan dengan cara
berpindah ke dalam jaringan dan menimbulkan peradangan di sekitarnya.
Telur Toxocara canis
III. PEMBAHASAN
1. Patologi dan Gejala Klinis
Pada manusia larva cacing tidak menjadi dewasa dan mengembara di
alat-alat dalam, khususnya di hati. Penyakit yang di sebabkan larva yang
mengembara ini disebut visceral larva migrans, dengan gejala
eosinofilia, demam dan hepatomegali. Visceral larva migrans dapat juga
di sebabkan oleh Nematoda lain.
Infeksi kronis biasanya ringan terutama menyerang anak-anak, yang
belakangan ini cenderung juga menyerang orang dewasa, disebabkan oleh
migrasi larva dari Toxocara dalam organ atau jaringan tubuh.
Gejala
klinis ditandai dengan eosinofilia yang lamanya bervariasi,
hepatomegali, hiperalbuminemia, gejala paru dan demam. Serangan akut dan
berat dapat terjadi, dalam keadaan ini lekosit dapat mencapai
100,000/mm3 atau lebih (dengan unit SI lebih dari 100 x109/l), dengan 50
– 90% terdiri dari eosinofil. Gejala klinis bisa berlangsung sampai
satu tahun atau lebih. Bisa timbul gejala pneumonitis, sakit perut
kronis, ruam seluruh tubuh dan bisa juga timbul gejala neurologis karena
terjadi kelainan fokal.
Bisa juga
tejadi endoftalmitis oleh karena larva masuk ke dalam bola mata, hal ini
biasanya terjadi pada anak yang agak besar, berakibat turunnya visus
pada mata yang terkena. Kelainan yang terjadi pada retina harus
dibedakan dengan retinoblastoma atau adanya massa lain pada retina.
Penyakit ini biasanya tidak fatal. Pemeriksaan Elisa dengan menggunakan
antigen stadium larva sensitivitasnya 75 – 90% pada visceral larva
migrans (VLM) dan pada infeksi bola mata. Prosedur western blotting
dapat dipakai untuk meningkatkan spesifisitas dari skrining menggunakan
Elisa.
2. Cara-cara Penularan
Kebanyakan infeksi yang terjadi pada anak-anak adalah secara langsung
atau tidak langsung karena menelan telur Toxocara yang infektif. Secara
tidak langsung melalui makanan seperti sayur sayuran yang tercemar atau
secara langsung melalui tanah yang tercemar dengan perantaraan tangan
yang kotor masuk kedalam mulut.
Sebagian
infeksi terjadi karena menelan larva yang ada pada hati ayam mentah,
atau hati sapi dan biri biri mentah. Telur dikeluarkan melalui kotoran
anjing dan kucing.
Telur memerlukan
waktu selama 1 – 3 minggu untuk menjadi infektif dan tetap hidup serta
infektif selama beberapa bulan; dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan
yang kering.
Telur setelah tertelan,
embrio akan keluar dari telur didalam intestinum; larva kemudian akan
menembus dinding usus dan migrasi kedalam hati dan jaringn lain melalui
saluran limfe dan sistem sirkulasi lainnya. Dari hati larva akan
menyebar ke jaringan lain terutama ke paru-paru dan organ-organ didalam
abdomen (visceral larva migrans), atau bola mata (Ocular larva migrans),
dan migrasi larva ini dapat merusak jaringan dan membentuk lesi
granulomatosa.
Parasit tidak dapat
melakukan replikasi pada manusia dan pada hospes paratenic/endstage
lain; namun larva dapat tetap hidup dan bertahan dalam jaringan selama
bertahun-tahun, terutama pada keadaan penyakit yang asymptomatic. Jika
jaringan hospes paratenic dimakan maka larva yang ada pada jaringan
tersebut akan menjadi infektif terhadap hospes yang baru.
3. Masa Inkubasi
Masa
inkubasi pada anak-anak berlangsung dalam beberapa minggu dan beberapa
bulan dan sangat tergantung pada intensitas infeksi, terjadinya
reinfeksi dan sensitivitas penderita. Gejala okuler muncul 4 – 10 tahun
setelah terjadinya infeksi awal. Masa inkubasi dari infeksi yang
diperoleh karena mengkonsumsi hati mentah sangat cepat (beberapa jam
sampai beberapa hari).
4. Gejala
Toksokariasis biasanya menyebabkan infeksi yang relatif ringan pada
anak-anak usia 2-4 tahun, tetapi juga bisa mengenai anak-anak yang lebih
tua dan dewasa.
Gejalanya dimulai
dalam beberapa minggu setelah terinfeksi atai bisa tertundan sampai
beberapa bulan, tergantung seringnya pameparan dan kepekaan seseorang
terhadap larva.
Yang pertama timbul
adalah demam, batuk, atau bunyi nafas mengi dan pembesaran hati.
Beberapa penderita mengalami ruam-ruam di kulit, pembesaran limpa dan
pneumonia yang hilang-timbul.
Anak-anak
yang lebih besar cenderung tidak menunjukkan gejala atau gejalanya
ringan, tapi mereka bisa mengalami luka di mata yang mengakibatkan
gangguan penglihatan dan bisa dikelirukan dengan suatu tumor ganas di
mata.
5. Diagnosa Penyakit
Cara
diagnosis toksokariasis sulit karena cacing ini tidak menjadi dewasa,
maka dari itu harus dilakukan tes immunologis atau biopsi jaringan.
Diduga terserang suatu toksokariasis, bila pada seseorang ditemukan
Diduga terserang suatu toksokariasis, bila pada seseorang ditemukan
- kadar eosinofil yang tinggi (eosinofil adalah sejenis sel darah putih)
- pembesaran hati
- peradangan paru-paru
- demam
- kadar antibodi yang tinggi dalam darah.
- pembesaran hati
- peradangan paru-paru
- demam
- kadar antibodi yang tinggi dalam darah.
6. Cara Pencegahan
1).
Berikan penyuluhan kepada masyarakat, terutama kepada pemilik binatang
peliharaan tentang bahaya dari kebiasaan pica (menggigit, menjilat
benda-benda) yang terpajan daerah yang tercemar oleh kotoran hewan
peliharaan. Juga dijelaskan tentang bahaya mengkonsumsi hati mentah
hewan yang terpajan dengan anjing dan kucing. Orang tua dan anak-anak
diberitahu tentang risiko kontak dengan binatang peliharaan seperti
anjing dan kucing dan bagaimana cara mengurangi risiko tersebut.
2).
Hindari terjadinya kontaminasi tanah dan pekarangan tempat anak-anak
bermain dari kotoran anjing dan kucing, terutama didaerah perkotaan
dikompleks perumahan. Ingatkan para pemilik anjing dan kucing agar
bertanggung jawab menjaga kesehatan binatang peliharaannya termasuk
membersihkan kotorannya dan membuang pada tempatnya dari tempat-tempat
umum. Lakukan pengawasan dan pemberantasan anjing dan kucing liar.
3).
Bersihkan tempat-tempat bermain anak-anak dari kotoran anjing dan
kucing. Sandboxes (kotak berisi pasir) tempat bermain anak-anak
merupakan tempat yang baik bagi kucing untuk membuang kotoran; tutuplah
jika tidak digunakan.
4). Berikan
obat cacing kepada anjing dan kucing mulai dari usia tiga minggu,
diulangi sebanyak tiga kali berturut-turut dengan interval 2 minggu dan
diulang setiap 6 bulan sekali. Begitu juga binatang piaraan yang sedang
menyusui anaknya diberikan obat cacing. Kotoran hewan baik yang diobati
maupun yang tidak hendaknya dibuang dengan cara yang saniter.
5) Biasakan mencuci tangan dengan sabun setelah memegang tanah atau sebelum makan.
6). Ajarkan kepada anak-anak untuk tidak memasukan barang-barang kotor kedalam mulut mereka.
7. Pengobatan
Sebelum
tahun 1960-an, pengobatan cutaneous larva migrans menggunakan
Chlorethyl, obat anastesi semprot dingin (biasa juga dipakai di
persepakbolaan).
Ternyata obat
semprot tersebut hanya menghambat, tidak membunuh cacing. Perlu
diketahui, cacing Toxocara canis terhambat pada suhu di bawah 10 derajat
cecius, tetapi tidak mati, dan baru bisa mati pada suhu minus 15
derajat celcius. Itulah mengapa disemprot Chlorethyl tak kunjung sembuh.
Obat yang dianjurkan antara lain:
Obat yang dianjurkan antara lain:
Obat cacing:
Obat pilihan adalah: thiabendazole, ivermectin dan albendazole, sedangkan obat lainnya Mebendazole.
Thiabendazole
Dosis: 25-50 mg/kg berat badan/hari, diberikan 2 kali sehari selama 2-5 hari. Tidak diperkenankan melebihi 3 gram perhari.
Dapat juga diberikan secara topikal (obat luar) 10-15% dalam larutan.
Albendazole. ( pilih yang ini )
Dosis dewasa dan anak di atas 2 tahun: 400 mg perhari, dosis tunggal, selama 3 hari atau 200 mg dua kali sehari selama 5 hari.
Dosis anak kurang dari 2 tahun: 200 mg perhari selama 3 hari.
Atau 10-15 mg per kg berat badan, 4 kali perhari selama 3-5 hari.Jining Wang, MD, February 28, 2006
Mebendazole
Dosis dewasa dan anak di atas 2 tahun: 100-200 mg dua kali sehari, selama 4 hari .
Anak kurang dari 2 tahun: tidak dianjurkan
Anti alergi, untuk mengurangi alergi lokal, misalnya menggunakan hidrokortison cream atau sejenisnya.
Antibiotika, diberikan bila ada infeksi sekunder (bernanah).
VI. KESIMPULAN
Obat pilihan adalah: thiabendazole, ivermectin dan albendazole, sedangkan obat lainnya Mebendazole.
Thiabendazole
Dosis: 25-50 mg/kg berat badan/hari, diberikan 2 kali sehari selama 2-5 hari. Tidak diperkenankan melebihi 3 gram perhari.
Dapat juga diberikan secara topikal (obat luar) 10-15% dalam larutan.
Albendazole. ( pilih yang ini )
Dosis dewasa dan anak di atas 2 tahun: 400 mg perhari, dosis tunggal, selama 3 hari atau 200 mg dua kali sehari selama 5 hari.
Dosis anak kurang dari 2 tahun: 200 mg perhari selama 3 hari.
Atau 10-15 mg per kg berat badan, 4 kali perhari selama 3-5 hari.Jining Wang, MD, February 28, 2006
Mebendazole
Dosis dewasa dan anak di atas 2 tahun: 100-200 mg dua kali sehari, selama 4 hari .
Anak kurang dari 2 tahun: tidak dianjurkan
Anti alergi, untuk mengurangi alergi lokal, misalnya menggunakan hidrokortison cream atau sejenisnya.
Antibiotika, diberikan bila ada infeksi sekunder (bernanah).
VI. KESIMPULAN
Dari
pembahasan kami di atas mengenai parasit, yaitu berupa hewan cacing,
setelah kami membahas parasit Toxocara canis dan Toxocara cati, maka
beberapa kesimpulan dapat kami sampaikan, diantaranya sebagai berikut:
1.
Cacing Toxocara canis dan Toxocara cati termasuk ke dalam klasifikasi
NEMATHELMINTHES (cacing gilik) dan termasuk ke dalam kelas NEMATODA,
yang memiliki bentuk bulat memanjang dan pada potongan tranvsversal
tampak rongga badan yang terlihat, dan memiliki alat kelamin terpisah.
2.
Nama penyakit yang di sebabkan oleh jenis cacing ini adalah
Toxokariasis (visceral larva migrans), karena cacing ini dapat hidup
pada manusia sebagai parasit yang mengembara (erratic parasite) sehingga
timbullah penyakit visceral larva migrans.
3. Hospes atau inang dari cacing Toxocara adalah anjing (T. canis) dan kucing (T. cati). Pada manusia, cacing ini dapat hidup sebagai parasit dan disebut parasit pengembara, menyebabkan penyakit yang disebut visceral larva migrans (pengembaraan larva di jaringan tubuh). Penyakit ini bersifat kosmopolit.
Daur hidup cacing Toxocara canis, hidup di tanah, lumpur, pasir dan tempat-tempat kotor. Varian lain diantaranya: Toxocara cati, Toxocara vitulorum, Toxocara pteropodis, Toxocara malayasiensis dll. Cacing ini daur hidupnya terutama melalui anjing, kucing dan dilaporkan bisa melalui herbivora.
3. Hospes atau inang dari cacing Toxocara adalah anjing (T. canis) dan kucing (T. cati). Pada manusia, cacing ini dapat hidup sebagai parasit dan disebut parasit pengembara, menyebabkan penyakit yang disebut visceral larva migrans (pengembaraan larva di jaringan tubuh). Penyakit ini bersifat kosmopolit.
Daur hidup cacing Toxocara canis, hidup di tanah, lumpur, pasir dan tempat-tempat kotor. Varian lain diantaranya: Toxocara cati, Toxocara vitulorum, Toxocara pteropodis, Toxocara malayasiensis dll. Cacing ini daur hidupnya terutama melalui anjing, kucing dan dilaporkan bisa melalui herbivora.
Sedangkan
morfologi Toxocara canis jantan berukuran panjang antara 3,6 – 8,5 cm
untuk betina 5,7 – 10 cm. Untuk Toxocara cati jantan berukuran antara 2,
5 – 7,8 cm, untuk betina antara 2,5 – 14 cm, dengan bentuk yang mirip
dengan Ascaris lumbriciodes. Pada Toxocara canis terdapat sayap servikal
yang berbentuk seperti lanset, sedangkan pada Toxocara cati bentuk
sayap lebih lebar, dan kepalanya menyerupai ular kobra.
Bentuk ekor yang dimiliki hampir sama, yang jantan berbentuk seperti tangan dengan jari yang sedang menunjuk (digitiform), sedangkan betina ekornya bulat meruncing.
Bentuk ekor yang dimiliki hampir sama, yang jantan berbentuk seperti tangan dengan jari yang sedang menunjuk (digitiform), sedangkan betina ekornya bulat meruncing.
4. Epidemiologi yang terjadi :
? Angka prevalensi pada anak-anak yang berusia 1-7 tahun sangat tinggi
? Lingkungan yang terkontaminasi oleh kotoran anjing atau kucing yang kurang terperhatikan kebersihannya.
? Tanah, pasir , lapangan, rumput yang terkontaminasi oleh kotoran anjing dan kucing sangat senang didiami oleh Toxocara canis dan Toxocara cati.
? Angka prevalensi pada anak-anak yang berusia 1-7 tahun sangat tinggi
? Lingkungan yang terkontaminasi oleh kotoran anjing atau kucing yang kurang terperhatikan kebersihannya.
? Tanah, pasir , lapangan, rumput yang terkontaminasi oleh kotoran anjing dan kucing sangat senang didiami oleh Toxocara canis dan Toxocara cati.
5.
Patologi dan gejala klinis di sebabkan larva yang mengembara ini
disebut visceral larva migrans, dengan gejala eosinofilia, demam dan
hepatomegali. Visceral larva migrans dapat juga di sebabkan oleh
Nematoda lain.
Gejala klinis ditandai
dengan eosinofilia yang lamanya bervariasi, hepatomegali,
hiperalbuminemia, gejala paru dan demam. Serangan akut dan berat dapat
terjadi, dalam keadaan ini lekosit dapat mencapai 100,000/mm3 atau lebih
(dengan unit SI lebih dari 100 x109/l), dengan 50 – 90% terdiri dari
eosinofil. Gejala klinis bisa berlangsung sampai satu tahun atau lebih.
Bisa timbul gejala pneumonitis, sakit perut kronis, ruam seluruh tubuh
dan bisa juga timbul gejala neurologis karena terjadi kelainan fokal.
6. Pencegahan dan pengobatan
? Pencegahan :
1). Berikan penyuluhan kepada masyarakat, terutama kepada pemilik binatang peliharaan tentang bahaya dari kebiasaan pica (menggigit, menjilat benda-benda) yang terpajan daerah yang tercemar oleh kotoran hewan peliharaan.
? Pencegahan :
1). Berikan penyuluhan kepada masyarakat, terutama kepada pemilik binatang peliharaan tentang bahaya dari kebiasaan pica (menggigit, menjilat benda-benda) yang terpajan daerah yang tercemar oleh kotoran hewan peliharaan.
2). Hindari terjadinya
kontaminasi tanah dan pekarangan tempat anak-anak bermain dari kotoran
anjing dan kucing, terutama didaerah perkotaan dikompleks perumahan.
3). Bersihkan tempat-tempat bermain anak-anak dari kotoran anjing dan kucing.
4).
Berikan obat cacing kepada anjing dan kucing mulai dari usia tiga
minggu, diulangi sebanyak tiga kali berturut-turut dengan interval 2
minggu dan diulang setiap 6 bulan sekali.
5) Biasakan mencuci tangan dengan sabun setelah memegang tanah atau sebelum makan.
6). Ajarkan kepada anak-anak untuk tidak memasukan barang-barang kotor kedalam mulut mereka.
? Pengobatan:
Pengobatan cutaneous larva migrans menggunakan Chlorethyl, obat anastesi semprot dingin. Dan diantara obat yang dianjurkan antara lain:
Pengobatan cutaneous larva migrans menggunakan Chlorethyl, obat anastesi semprot dingin. Dan diantara obat yang dianjurkan antara lain:
- Obat cacing: Obat pilihan adalah: thiabendazole, ivermectin dan albendazole, sedangkan obat lainnya Mebendazole.
- Thiabendazole
- Albendazole.
- Mebendazole
- Anti alergi
- Antibiotika
- Thiabendazole
- Albendazole.
- Mebendazole
- Anti alergi
- Antibiotika
V. SARAN
1.
Selalu menjaga kebersihan lingkungan, terutama pada lingkungan yang
banyak ditinggali oleh hewan berupa anjing dan kucing, karena hewan
tersebut yang dapat menyebabkan penyakit Toksokariasis.
2.
Awasi dan perhatikanlah kebersihan anak-anak yang gemar bermain di area
tanah, rerumputan, lapangan, dan area dimana cacing Toxocara canis dan
Toxocara cati dapat tumbuh dengan baik.
3.
Segera lakukan penanganan yang tepat jika seandainya ada anak yang
terinfeksi cacing jenis ini, segera lakukan penanganan medis.
4.
Sebaiknya bagi yang memiliki hewan peliharaan jenis anjing dan kucing,
agar diperhatikan juga kebersihannya, tempat makan, tempat buang air,
dsb, sehingga suklit bagi cacing untuk berkembang dengan baik.
5. Selalu mencuci tangan dengan menggunakan sabun, agar kuman-kuman dan sejenis cacing tidak dapat menyerang tubuh kita.
0 komentar:
Posting Komentar